Simfoni Nyanyian Hati (eps 02)

14.43 Awaldi Rahman 2 Comments


Sudahlah, tiada guna menyalahkan Pak Tua tadi. Mungkin ini salahku juga, terlalu banyak bergurau, lama bersantai, dan membuang-buang waktu. Tidak pantaslah aku terlalu menyalahkan orang tua itu. Astaga, maafkan aku yang telah berbuat dosa padamu Pak Tua.
Kini perjalananku ditemani dengan sebuah senter yang menyibak gelap dengan cahayanya. Juga suara jangkrik yang membuat perjalanan ini terasa lebih hidup. Ramai. Angin malam berhembus mulai kencang membuat hasrat ingin segera sampai semakin besar. Tatapanku kosong memandang jauh ke depan.
Langkahku tiba-tiba saja terhenti. Bukan karena ada hewan buas yang hendak menerkam, juga bukan karena ada perampok yang ingin merampas barang bawaan, apalagi karena ada hantu yang menakuti, itu juga bukan. Melainkan sangat takjub dan begitu terpana. Didepanku kini terdapat sebuah desa yang tidak kalah indahnya dengan perkotaan di negeri jauh sana.
Kupukuli, kucubiti pipiku. Sakit. Ternyata ini bukan mimpi, melainkan sungguh nyata terjadi. Alangkah indahnya desa ini, bak taman yang ada di surga. Belum pernah kulihat sekalipun. Senang sekali melihat ini semua dengan mata kepala sendiri, meskipun menyisakan sedikit rasa sesal karena menyumpahi Pak Tua tadi. Bagaimana tidak menyesal? Desa ini kutemukan hanya sepelemparan batu dari tempat dimana aku menyumpahi Pak Tua itu. Sekali lagi maafkan aku Pak Tua, aku benar-benar menyesal.
Suasana hening seketika. Bintang-bintang dengan indah membentuk jutaan formasi, juga ditemani dewi malam yang setia menerangi dengan cahaya nyatanya dari gelap gulita. Tidak mau kalah, kerlap-kerlip ribuan kunang-kunang membuat semua menjadi lebih indah. Aku benar-benar tertegun oleh semua ini. Ditambah lagi dengan gapura desa itu. Tegak berdiri menyambut para pendatangnya.
“Astaga, sungguh baru kutemui desa seperti ini selama tujuh tahun aku mengembara. Bahkan, layak saja untuk dibilang pemukiman elite” Gerutuku dalam hati.
Tanpa banyak berpikir, langsung saja kulangkahkan kakiku menuju gapura itu dan masuk ke dalamnya.
Sungguh, Khazam benar-benar tidak tahu bahwa cerita hidupnya akan menjadi lebih rumit lagi. Apalagi jikalau bukan karena cinta? Ya, tentunya setelah potongan-potongan bagian ini.
*~*~*~*~*~*
“Pak Tua?” Kagetku setengah tidak percaya akan bertemu Pak Tua di desa ini.
“Rupanya kau wahai pemuda. Alamak, apakah engkau baru saja tiba di desa ini?”
“Ya, baru saja” Jawabku santai dan tidak ingin menyalahkan Pak Tua atas hal ini. Toh, ini juga salahku sendiri.
“Hahaha, tentu saja itu bukan salahku. Itu karena engkau terlalu mengikuti rasa egomu, banyak bersantai, banyak bergurau, mungkin saja kau juga memaki-makiku. Sebab, kubilang padamu kau akan sampai jauh sebelum matahari terbenam. Benar begitu?” Kata Pak Tua datar.
“I..i..iya Pak Tua, maafkan aku...” Balasku sedikit terpatah-patah.
“Yasudahlah, tidak usah kau pikirkan lagi. Padahal, tadi aku hanya iseng-iseng bertanya. Ckckck”
“Baiklah...”
“Tadinya kukira kau tidak akan sampai disini pemuda. Haha” Canda Pak Tua.
“Entahlah seperti apa nasibku nanti jika tidak menemukan desa ini, bisa saja aku akan mati kedinginan nantinya. Dan tidak ada yang memperdulikan mayatku” Balasku.
“Oh ya, pasti kau butuh tempat singgah bukan?”
“Ya, tentu saja”
“Mari ikuti orang tua ini, akan kutunjukan tempat singgah yang tepat untukmu”
Kulakukan perintahnya. Berjalan mengikuti orang tua itu persis disamping kanannya. Sepertinya Pak Tua ini tahu betul seluk-beluk desa ini, begitulah hati kecilku berkata. Memintanya untuk menjadi guide berkeliling desa besok, mungkin akan terasa lebih menarik. Selain orang tua itu bijaksana, ia juga terlihat sebagai orang yang ramah. Enak untuk diajak bercanda.
Tibalah aku di pelosok desa bagian timur, dimana para penduduk tinggal dengan gubuk-gubuk sederhana mereka. Satu hal yang membuatku terkesan lagi, yaitu meskipun ini hanyalah gubuk-gubuk sederhana , tetapi mereka memiliki rancsngsn yang indah. Sungguh, menjadikan salah satu ciri khas dari desa nan indah ini.
Lalu kami berbelok arah dan masuk ke pekarangan salah satu penduduk desa itu. Setibanya di depan pintu, Pak Tua mengetuknya seraya mengucap salam. Tidak ada yang membukakan pintu. Pak Tua mencoba mengetuknya sekali lagi. Tidak ada jawaban juga. Mungkin ini terakhir kalinya Pak Tua akan mengetuk pintu itu. Jika tidak dibuka juga, bisa saja ia mengambil alternatif lain. Terlihat dari raut wajahnya. Namun takdir menggerakan telinga dan hati sang pemilik rumah untuk mendengar dan membukakan pintu untuk kami berdua.
Keluarlah wanita yang kupikir ia sebaya dengan Pak Tua. Wanita itu menatap wajah Pak Tua lamat-lamat. Mencoba mengenali setiap guratan wajahnya. Seakan-akan mereka sudah lama tidak berjumpa. Memakan waktu cukup lama.
“Yusuf?” Akhirnya ia melontarkan sebuah nama.
“Ya, benar. Pastilah penyakit pikunmu sedang kambuh, Laila. Hahaha” Balas Pak Tua yang membuat Wanita Tua yang bernama Laila itu tersipu malu.
“Ada perlu apa kau datang malam-malam seperti ini, Yusuf? Dan siapa gerangan pemuda itu?” Tanya Wanita Tua itu pada Pak Tua sembari menunjukku.
“Hmmm...Baiklah akan kujelaskan. Alamak! Eh, sebelumnya perkenalkan pemuda ini bernama Khazam” Kata Pak Tua.
Aku dan Wanita Tua itu saling bertatapan. Berbalas senyum.
“Ia seorang pengembara. Baru saja tiba di desa ini kala lembayung merah hilang. Tepat. Jadi, maksudku membawa pemuda ini tidak lain ingin menjadikan rumahmu sebagai tempat singgahnya untuk sementara waktu ini” Sambung Pak Tua.
“Kenapa kau lebih memilih rumahku? Bukankah masih banyak rumah lain di desa ini yang lebih layak? Lagipula tidak ada yang istimewa juga di gubuk sederhana ini” Balas Wanita Tua itu seperti ingin menolak permintaan Pak Tua.
“Entahlah, mengapa aku lebih memilih pintu rumahmu dibanding dengan sekian banyaknya pintu rumah lainnya yang ada di desa ini. Firasatku menyuruh agar membawa pemuda ini ke rumahmu. Kau bilang tidak ada yang istimewa? Itu salah besar, Laila. Kau itu selalu mampu membuat cerita hidup seseorang menjadi lebih istimewa. Itulah yang membuat hal-hal yang ada disekitarmu menjadi istimewa” Kata Pak Tua yang sekali lagi membuat wajah Wanita Tua itu merah tersipu. Malu.
“Jadi, apakah kau mau menerima pemuda ini” Lanjut Pak Tua.
“Dengan senang hati...” Jawab Wanita Tua itu tanpa harus berpikir panjang lagi.

Sudahlah, tiada guna menyalahkan Pak Tua tadi. Mungkin ini salahku juga, terlalu banyak bergurau, lama bersantai, dan membuang-buang waktu...

2 komentar: