Segurat Senyuman (eps 01)

22.34 Awaldi Rahman 0 Comments

Malam ini indah, tapi tidak seindah hatiku sekarang. Bulan menampakkan sirat cahayanya yang membuat seluruh kota menjadi terang benderang. Bintang-bintang juga ikut menyinarkan pelitanya yang membuat kota ini seolah-olah menjadi semakin hidup. Mereka membentuk jutaan formasi yang menghiasi langit. Dan sesekali aku melihat ada beberapa bintang jatuh.
Allahu Akbar...Allahu Akbar...
Sayup-sayup suara adzan kini saling bersahutan. Terdengar dari satu desa ke desa lainnya. Satu desa selesai, disambung lagi dengan desa lainnya. Membuat kota riuh seketika. Dan juga membuat hati gelisahku menjadi lebih tentram. Terlihat satu dua orang yang berpenampilan rapih menggunakan pakaian sholat yang sebagaimana mestinya melewati depan panti kami. Anak-anak kecilpun tidak mau kalah rapihnya dengan orang dewasa, mereka begitu antusias untuk melaksanakan ibadah. Ya, tidak salah lagi mereka ingin pergi ke masjid yang jaraknya tak jauh dari panti kami. Cukup dengan waktu lima menit saja sudah sampai.
Ku duduk seorang diri di bangku pekarangan depan panti. Tepat di bawah pohon jambu monyet yang selalu menemaniku di kala jiwa ini sunyi dalam kehampaan, sepi dalam kebersamaan. Hanya ini yang bisa aku lakukan sehari-harinya. Menyendiri dari anak-anak panti lainnya. Hanya beberapa teman dekatku saja yang terkadang mengajakku bermain bersama. Yang lainnya tidak, tidak ada rasa peduli sama sekali denganku. Dalam kesendirian aku telah mencoba menepiskan air mata yang ada, di dalam dunia yang terbuat dari batu. Dalam kesendirian aku berjalan menyusuri lembah-lembah yang berwarna-warni, di dalam dunia yang terbuat dari baja. Dalam kesendirian juga kutemukan separuh jiwaku yang hilang.
Bukan karena aku selalu di caci, di maki oleh anak-anak panti lain. Itu sudah biasa bagiku. Bukan juga karena aku selalu diperlakukan kasar, bukan. Tapi aku merasa kurang adanya rasa keadilan disini. Kenapa aku bisa berkata ini tidak adil? Jelas sekali, umurku baru sepuluh tahun. Tergolong anak paling muda yang ada di panti. Anak-anak sebayaku juga tidak ada yang diperlakukan seperti diriku. Apa sih salahku? Sungguh aku tidak mengerti dengan semua ini.
Di panti, aku seperti orang yang terlupakan. Aku ada, tetapi seolah-olah tidak ada. Pernah ketika lebaran, ibu panti belanja baju-baju baru. Semua kebagian, kecuali aku. Sedih sekali. Alasan ibu panti, “Wah, ibu lupa membelikan kamu. Besok aja ya, ibu ke pasar lagi. Janji deh, ibu akan membelikan baju yang paling bagus buat kamu ya sayang.”
Memang sih, ibu panti menepati janji. Tapi kejadian seperti itu bukan hanya sekali melainkan berulang-ulang kali. Anak-anak panti lain selalu dipeluk dengan amat erat, dengan disertai ucapan-ucapan yang cukup membahagiakan. Tapi aku? Hanya diberi pelukan sekilas, lalu dilepas begitu saja. Aku tidak merasakan sensasi apapun kecuali sentuhan fisik yang membuat leherku seperti tercekik. Tentu itu juga merupakan siksaan batin bagiku.
Terkadang aku terbangun di sepertiga malam. Manakala semua penghuni panti masih dalam keadaan berselimut, masih dalam buai tidur lelapnya. Manakala, di waktu tersebut malaikat turun ke bumi untuk mengabulkan doa-doa insan yang terlepas dari gemulai selimutnya. Tidak akan aku sia-siakan waktu tersebut tidak lain untuk bermunajat kepada yang maha kuasa. Yang maha mendengar. Dalam sujudku aku minta pertolongan dari-Nya sebagai hamba yang tidak mampu berbuat banyak. Sujud simpuh diriku sebagai hamba yang lemah. Hanya bisa meminta.
Belum selesai sampai disitu kuhabiskan sepertiga malamku. Seusai sholat, kembali aku menengadahkan kedua tanganku sebagai penghambaan diri kepada-Nya. Dalam doaku aku meminta, “Ya Allah yang maha pengasih, kirimkanlah hamba orang tua yang baik hati yang mau menjadikan hambamu ini sebagai anak angkatnya. Yang bisa menerima atas segala kekurangan hamba. Hamba rela meskipun sebatas anak angkat. Ya Allah yang maha mendengar, hamba tau engkau mendengar setiap permintaan hamba-hambamu, oleh karena itu kabulkanlah permintaan hambamu ini, Amiiin. Doaku pendek.
Begitulah sepertiga malamku. Aku isi dengan sholat malam lalu diiringi dengan doa sebagai penutupnya. Karena sholatku adalah penyejuk hatiku, doaku bagaikan seorang teman yang hadir dalam luasnya padang yang gersang, rasa sabar sudah menjadi pakaian dan moral pada diriku, sedangkan kesedihan yang melanda jiwaku sudah kuanggap sebagai sahabat yang tidak bisa dilupakan. Senyum. Itulah yang bisa aku perbuat untuk menjalani beban hidup di dunia ini.
Tidak terasa adzan shubuh kini berkumandang jelas. Tidak terasa juga kutelah meneteskan air mata yang begitu saja mengalir di pipi kanan dan kiri. Lalu aku hapus air mata itu. Aku berdiri bergegas mengambil air wudhu lalu aku tunaikanlah salah satu dari sholat lima waktu. Sholat shubuh.

Malam ini indah, tapi tidak seindah hatiku sekarang. Bulan menampakkan sirat cahayanya yang membuat...

0 komentar: