Sepuluh Jiwa Sepuluh Warna (eps 02)

15.38 Awaldi Rahman 2 Comments

     Semasa SMA dulu, memang Kenzie selalu unggul dari anak-anak The Rainbow dan murid lain yang ada di kelas dalam berbagai bidang, baik itu akademik maupun non akademik. Selain itu, dia adalah seorang ketua kelas selama tiga tahun berturut-turut. Dan bagiku dia memang layak mendapatkan predikat lulusan terbaik di SMA.
     Kuambil cangkir cappucino hangatku dan kuteguk satu dua kali.
     “Berbeda sekali nasibnya dengan Fira, dia terancam di berhentikan dari kuliahnya cuma gara-gara masalah biaya saja. Sayang sekali. Padahal saat ini dia sedang menjalani semester terakhir juga seperti kita” Kata Rangga.
     “Dengar-dengar sekarang Hasan di Kairo, Widya di Utrecht, Cinta dan Amel di Adelaide” Sahut Adit.
“Wahh, tak di sangka ya, The Rainbow yang waktu SMA di cap sebagai kumpulan anak-anak tengil, jail bin iseng, ternyata bisa menjadi orang yang sukses-sukses seperti sekarang ini” Celetukku membuat kami lagi-lagi tertawa bersama.
     “Taa…tapi bagaimana dengan nasib Fira?” Tanya Rangga.
     “Kita bantu saja dia, kita bantu dengan sedikit uang yang kita punya, lalu kita transfer ke rekeningnya dan beri tahu dia kalau kita sudah beri dia sedikit bantuan buat biaya kuliahnya, kali-kali saja cukup” Jawab Adit lantang.
     “Setuju! Tumben sekali otakmu jalan Dit. Hahahaha” Canda Rangga.
     “Memang ya, dunia ini bagai roda-roda yang berputar secara terus-menerus. Kadang kita diatas, dan kadang kita dibawah. Kehidupan sering sekali menghadirkan kenyataan yang berbeda dengan keinginan yang kita inginkan. Namun kenyataan seperti itulah yang akan mengajarkan kita bahwa didunia ini hanyalah tipuan belaka. Terkadang sesuatu yang terlihat jernih di kasat mata, belum tentu jernih melainkan keruh. Begitu pula yang terlihat keruh, belum tentu juga keruh. Dunia ini tidak sedikit orang yang tenggelam dalam keterpurukan karena tipu dayanya. Padahal, siang yang terang benderangpun akan menjadi malam yang kelam. Bunga-bunga mawar yang merah nan indahpun akan menjadi layu dan menjadi tanah lagi. Ketika kita memandang bulan ,tampaklah wajahnya yang terang benderang berkilau dan bersinar terang benderang, namun pada kenyataannya ia hanyalah bebatuan yang terjal. Tatkala kita memandang senja yang penuh dengan nuansa jingga, tanaman yang nampak seperti permadani begitu memukau dilihat dari kejauhan. Namun ternyata ketika kita mendekat yang tampak hanyalah hutan yang hitam dan gelap.
“Hidup ini butuh proses, tak mungkin kita sukses seperti sekarang ini tanpa adanya proses. Dan masa itu pasti pernah dirasakan oleh semua orang. Aku sangat setuju sekali jika ada pernyataan yang berkata bahwa ‘Dari nothing menjadi something itu butuh kerja keras’. Benar sekali memang.” Kataku panjang lebar.
     “Benar sekali kau Dik, kalau ada yang kaya, pasti ada yang miskin. Kalau ada yang sehat, pasti ada juga yang sakit. Kalau ada yang muda, pasti ada yang tua. Kalau ada maling, pasti ada yang gebukin! Hahahaha” Kata Rangga.
     “Bisa saja kau Ga” Balasku.
     “Ehh, sepertinya hujan diluar sudah mulai reda Ga. Kita pulang yuk!” Ujar Adit. 
     “Oke deh Dit”
     Adit dan Rangga pun langsung bergegas berdiri dan mengambil jas hujannya masing-masing lalu membuka pintu.
     “Dik, Kita pulang dulu ya” Kata Adit.
     “Oke Dit, hati-hati ya kalian” Jawabku.
     “Siiiiip” Balas Adit dan Rangga dengan serempak.
Suasana rumahku kembali sepi sunyi. Sekilas canda dan tawa itu pergi begitu saja. Pertemuan tadi membuatku kembali teringat akan kebersamaan anak-anak The Rainbow saat dulu kala. Senyum, sedih, canda, tawa, suka dan duka kita hadapi bersama-sama. Tak sadar aku baru saja meneteskan air mata saat menatap sebingkai foto ketika kami jalan-jalan bersama.
Sudah menjadi tekadku. Lulus kuliah dengan nilai yang membanggakan, dan langsung pulang menuju kampung Indonesia untuk berjumpa dengan sanak keluarga dan anak-anak The Rainbow tentunya.
Tak sengaja kutemukan buku diary-ku saat mengobrak-abrik meja kerjaku. Sudah penuh dengan debu dan mulai kusam. Cukup lama sudah aku tidak pernah buka lagi diary ini. Yang menyimpan akan sejuta kenangan duka cita ataupun suka cita, manis ataupun pahit di masa-masa SMA. Bukan karena kusibuk atau entahlah itu, karena aku belum siap untuk mengenang cerita-cerita duka yang ada disini. Tapi kali ini akan kucoba beranikan diri, kubuka kembali lembaran hariku di masa SMA lampau.

     Semasa SMA dulu, memang Kenzie selalu unggul dari anak-anak The Rainbow dan murid lain yang a...

2 komentar:

  1. nice share...keep write :)

    don't forget read this http://showgan.blogspot.com/2011/08/tropical-paradise-of-bali.html

    BalasHapus
  2. pls submit here http://feeds.feedburner.com/showga

    BalasHapus