Sepuluh Jiwa Sepuluh Warna (eps 01)

01.17 Awaldi Rahman 0 Comments

    Rintihan air itu terus turun perlahan lalu membasahi aspal, rerumputan, tanah, atap-atap gedung dan membungkus seluruh kota Paris menjadi serba basah.  Menyenangkan. Membuat suasana di luar terlihat damai dan tentram. Kota ini seolah diguyur oleh air yang begitu saja dituang dari langit. Ketukan-ketukan halus terdengar dari setiap rintik air yang menyentuh jendela kaca di depanku.
   Aku menghela nafas panjang, Pelan jemariku menyentuh permukaan kaca yang berembun. Hawa dingin segera menjalar menyusuri seluk-beluk organisme yang ada  hingga sampailah pada lubuk hati yang paling dalam. Membuat seluruh perasaanku beku tak berdaya.              
   Jalan-jalan yang basah. Rumah-rumah dan bangunan dengan tekstur kebarat-baratan habis disepuh air hujan. Taman-taman yang menjelma bak permadani di taman surga, menampakan sirat air mancur yang cukup indah. Air yang memancar keatas, dan turun lagi ditemani rintik air hujan. Dan, pesona juwita muka gadis-gadis yang berjalan diseberang jalan dengan payung yang beranekaragam warnanya. Membuat kota terlihat lebih indah dengan warna-warninya.
    Sudah tiga jam ini hujan turun tiada henti. Wajar, karena memang sebulan terakhir kota Paris ini tak dihampiri oleh hujan. Pohon-pohon ontario di kanan-kiri jalan yang biasanya rimbun kini tinggal hanya beberapa saja yang dibalut air hujan. Pohon-pohon ontario itu tampak pasrah akan kebesaran Tuhan yang mengatur seluruh alam semesta. Dalam diam pohon itu menyerap air hujan untuk melakukan pertumbuhannya. Angin dingin terus menghembus perlahan dari arah utara ke arah selatan yang diikuti oleh air hujan. Angin itu menerobos pintu rumahku dan menusuk tubuhku hingga pori-pori yang paling dalam. Memakai satu pakain tebal saja tidak cukup bagiku. Apalagi musim dingin nanti. Dingin sekali pastinya. Membutuhkan dua atau tiga pakaian tebal.
    Tak jauh, tampak Menara Eiffel, menara besi yang dibangun di Champ de Mars di tepi Sungai Seine di Paris. Menara ini telah menjadi ikon global Perancis dan salah satu struktur terkenal di dunia. Menara tertinggi kelima di Perancis dan paling tinggi di kota Paris ini. Menara yang dirancang oleh insinyur Gustave Eiffel ini konon telah dikunjungi lebih dari dua ratus jiwa sejak pembangunannya pada tahun 1889 dan menjadikannya monumen bertarif yang paling banyak dikunjungi. Menara ini setara dengan bangunan konvensional 81 tingkat. Petir menyambar. Membuatku terhentak kaget.
    Rumahku sendiri berada di Barbizon Avenue, desa perancis dimana Sekolah Lukis Barbizon terletak. Jalan yang selalu riuh dengan lalu lalang para pejalan kaki dan lalu lintas mobil. Di seberang jalan berjejer rapih restoran khas makanan Prancis yang besar dan terbilang agak kuno. Lampu jaman dulu, meja dan kursi untuk para pelanggan yang ingin menyajikan hidangan diluar, dan karyawan-karyawan berseragam terlihat jelas dari sini.
    Buku-buku tertumpuk beraturan diatas meja. Dan lampu portable yang lupa kunyalakan. Tanganku segera bergerak membuka layar Toshiba Notebook-ku yang berwarna hitam metalik. Sekedar berbincang-bincang lewat aplikasi messenger bersama karibku yang ada di Indonesia. Saling tanya kabar dan bertukar informasi. Untuk melepas jenuh juga.
    Tingtungtingtung…bunyi bel pintu terdengar halus. Kuberpikir sejenak, siapa yang datang malam-malam seperti ini, hujan pula. Bergegas kubergerak menuju pintu, kuintip sedikit lewat lubang kecil yang memang dibuat untuk melihat siapa tamu yang datang berkunjung. Tidak terlihat jelas. Dua orang memakai jas hujan berwarna hitam. Lalu kubukakan pintu untuk mereka. Ya, tak salah lagi itu Adit dan Rangga. Mereka adalah teman-teman dekatku saat dibangku SMA.
    Adit juga teman satu kampusku di Sorbonne, Universitas paling terkenal di kota Paris. Kami mengambil jurusan yang sama yaitu sastra. Dan saat ini kami tengah menjalani ujian akhir dan mempresentasikan skripsi yang telah kami buat dengan susah payah. Sedangkan Rangga kuliah di Universitas Negeri Paris atau Universite Paris Dauphine. Universitas yang paling terkenal dengan jurusan manajemennya. Dan saat ini Rangga sedang menunggu hasil ujiannya yang akan menentukan lulus atau tidak di program master ini.
    “Ayo masuk”
    Adit dan Rangga pun masuk dan sibuk melepas jas hujannya masing-masing. Langsung duduk begitu saja tanpa kupersilahkan. Wajar. Memang itu sifat mereka sejak dulu. Belum berubah hingga sekarang.
    “Ada apa kalian main ke rumahku malam-malam begini? Tumben sekali.”
    “Haha, kebetulan aku dan Rangga habis dari taman dekat Istana Sceaux Dik. Saat kita dijalan pulang, tiba-tiba saja hujan semakin deras. Kebetulan tak jauh dari sana ada rumah kamu, jadi kita main saja sebentar, sekalian berteduh juga sampai hujan agak reda, hehe”
    “Oalah, ada-ada saja kalian.”
    Suasana hening sejenak. Hanya Rangga yang sibuk sendiri memakai sweater-nya.
    “Ngomong-ngomong ngapain kalian berdua pergi ke taman?” tanyaku memecah keheningan.
    “Sekedar cuci mata saja Dik. Daripada aku pergi sendirian, gak ada teman yang bisa diajak ngobrol, aku ajak saja si Rangga.”
    “Ohh…oiya, kalian mau minum apa nih? Cappucino hangat mau?”
    “Ahh, tak usah repot-repot Dik. Kita hanya sebentar saja kok.” Sahut Adit.
    “Sudah tidak apa-apa. Aku malah senang kok kalian main ke rumahku. Menghapus kesepian seketika. Aku juga ingin berbincang-bincang dulu dengan kalian. Kubuatkan cappucino hangat dulu ya!”
    Tanpa memperdulikan apa jawaban mereka, langsung kubergegas menuju dapur dan membuat tiga cangkir cappucino hangat. Untuk memastikan enak atau tidaknya, aku hirup saja sedikit. Sluuurp. Mantap!!!
    “Hey, ayo diminum dulu cappucino hangatnya”
    Dengan cepat mereka menyambar cangkir-cangkir cappucino hangat yang kubuat itu. Sluuurp. Cukup untuk menghangatkan tenggorokan dan melepaskan rasa dahaga seketika.
    “Aku jadi teringat saat kita masih SMA dulu Dik”
    “Aku juga Dit, kangen sama anak-anak The Rainbow”
    “Hahahaha” Kami tertawa bersama.
    “Bagaimana ya keadaan mereka sekarang? Keadaan Cinta? Keadaan Hasan? Keadaan Widya? Keadaan Kenzie? Keadaan Amel? Keadaan Fira? Keadaan bang A..a..arya?” Tanya Rangga tentang kabar anak-anak The Rainbow yang tiba-tiba saja tertunduk pada saat menyebut nama bang Arya.
    “Ahhh, sudah Ga, lupakan lupakan!” Kata Adit sambil menepuk bahu Rangga. Mungkin Rangga lupa  bahwa bang Arya telah tiada. Karena memang bang Arya adalah kakak kandung Rangga sendiri, yang selalu perhatian dengannya.
    “Tadi Kenzie menyapaku di messenger, Senang sekali dia sekarang. Dia baru saja lulus dari program master jurusan MIPA di University College London. Rencananya dia ingin langsung pulang ke Indonesia, tak sabar berjumpa dengan keluarga katanya” Gumamku sekedar memberi kabar.
    “Wah, makin sukses saja dia” Ujar Adit.

Bersambung...

    Rintihan air itu terus turun perlahan lalu membasahi aspal, rerumputan, tanah, atap-atap gedung dan membungkus seluruh kota Paris menja...

0 komentar: