Sempurna sudah mentari duduki singgasananya. Menyinari alam semesta ini begitu terik, menyarukan. Sinarnya memantul pada telaga bening dengan menawarkan kilau keemasan, juga membuat mata elok. Secercah awan menemaninya dengan senyum sendiri. Desir angin berbisik bersama alunan berita langit membawa sepotong episode kehidupan.
Terlihat seribu gembel yang sedang berdansa ria di jalanan yang ditemani dengan simfoni nyanyian hati. Dengan tergopoh, menyusuri jalan, mengais bersama sampah, bau busuk karibnya. Mandi keringat, banting tulang merupakan hal lumrah yang mereka lakukan, meskipun hanya untuk bertahan hidup. Tidak bertahan lama, sebagian dari mereka terbuang dan menyisakan sebagian yang lain. Begitu mudah tersingkirkan.
Di pertigaan jalan sana, seorang gembel dengan pakaiannya yang lusuh, muka kusam, dan bau badan, sedang berusaha untuk menjumpai takdirnya. Ia bernama Lubit, gambaran sampah jalanan yang mengais derita. Di kala lampu berwarna merah, ia tempelkan wajahnya pada kilat kaca mobil sembari berkata: “Tuan, berikan hamba beberapa keping untuk makan”. Diabaikan, ia berpindah ke kaca mobil yang lain. Begitu selanjutnya, ketika lampu berwarna merah, ia bergelut ke jalanan, dan ketika lampu berwarna hijau, dengan tergesa ia menghindar dari lindasan roda-roda mobil penghantar maut itu.
Di pertigaan jalan yang lain, Hendar. Gembel yang terlepas dari takdirnya. Gembel yang hampir kehilangan arah. Bermodalkan botol plastik yang berisikan beras, ia dendangkan melodi indah dari lubuk hati terdalam. Mengharap simpati mereka.
Orang Pinggiran, Oh…
Di terik mentari…
Di jalan becek…
Menyanyi dan menari…
Srek srek,
Lagu merduku, teralun indah untukmu.
Di pengkolan sana, merupakan tempat kami bertukar keringat, bertukar rasa peluh.
“Hei, dapat berapa perak kau, Bit?”
“Tidak seperak pun, yang kudapat malah cacian-cacian yang menusuk hati. Sakit sekali hatiku ini”
“Ah kau ini, seperti anak kecil saja. Sudah berapa lama kau tinggal di jalanan? Sabarlah, asal kau tahu, hal-hal yang menyakitkanlah yang membuat kita semakin dewasa. Jika kau tidak sabar, itu tandanya kau menolak atas pendewasaan pada dirimu. Atau mungkin kau salah memaknainya? Berilah makna baru untuk hal itu, dengan begitu kau pasti akan terbiasa”
“Astaga, sejak kapan kau bijak seperti ini? Haha”
“Sial kau!”
“Tetapi, benar juga sih, Dar. Aku harus lebih sabar lagi ke depannya”
“Nah! Begitu dong…”
Mereka pun kembali ke dalam lingkaran dengan penuh asa. Kembali lagi merangkak, menjerit, berteriak, dan berputar-putar. Setelah kemudian rasa peluh itu datang kembali nanti, mereka merapat ke pinggiran lagi. Pulang.
Kala senja menyingsing, dan mentari mulai sirna. Senantiasa menghadirkan nuansa jingga di tepi barat. Jingga yang menyisakan isak tangis dalam hati. Hembusan angin yang menyelinapkan berjuta rasa dalam jiwa. Di senja yang teduh, seteduh tatapan mata seorang ayah pada keluarganya tercinta.
-x-X-x-
Sayup-sayup suara azan maghrib saling sahut-menyahut. Hanya sekejap, serdadu gamis putih menyerbu masjid-masjid setempat. Di bagian lain, orang-orang berbondong-bondong keluar dari pabrik untuk pulang setelah seharian membanting tulang. Bagian lainnya lagi, seorang bayi sedang menangis meminta manja dari bundanya. Tetapi disini, gembel-gembel itu membisu. Sunyi. Raganya berbaring, tetapi angan ingin sekali meraih mimpi. Mimpi yang masih menjadi bagian cerita di esok hari.
Langit-langitlah yang menjadi saksi bisu atas semua yang terjadi pada kehidupan yang fana ini. Akhirnya Lubit pun tiba di istananya. Hanya sebuah istana yang beratapkan langit, dan bersekatkan kardus-kardus bekas. Ia yang pulang dengan tangan hampa, mendapati istrinya yang sedang terlelap tidur, Nadia. Ia menangis seketika, menjeritlah hati ini. Jeritan yang penuh dengan penyesalan. Lalu ia berdoa pada Tuhan.
Wahai Tuhan,
Telah sampailah aku di malam-Mu.
Setelah usang kubertebaran di bumi kala siang-Mu.
Laksana angin yang menerpa embun, jatuh jernih terisap tanah.
Terasa letih diriku ini berjalan.
Berlapis debu tubuhku perlahan.
Pudarnya senja berikanku teguran.
Untuk  bersujud angankan ampunan.
Wahai Tuhan,
Tahukah kau apa yang sesungguhnya hari ini terjadi?
Lihatkah kau apa yang tubuh ini kerjai?
Sungguh amat terasa diri ini merugi.
Wahai Tuhan,
Aku belum dapat bahagiakan orang tercinta.
Aku belum sempat untuk bawakan mereka gembira.
Aku hanya mampu beri mereka potongan-potongan elegi.
Wahai Tuhan,
Atas kuasa-Mu ampuni siang kami tadi.
Mungkin tuhan tidak akan menjawab. Mungkin ia tidak membutuhkan jawaban atas itu. Sudah berulang kali ia berharap, hatinya menjerit. Namun, kata-kata itu bagaikan tidak memiliki makna bagi-Nya.
Lubit pun duduk di pelataran sandaran pohon jati yang mewangi, tempatnya menanam harapan-harapannya yang berharap itu akan terjadi. Sejenak bersandar, sekedar pelipur lara, sejenak. Akhirnya badannya tergolek lemah, bertikarkan debu halus yang melekat erat pada tanah. Hati kecilnya berkata: “Malam, izinkan aku terlelap sebentar. Aku berjanji akan berjumpa lagi dengan pagi. Ia ingin sekali menitip secarik pesan untukmu, tentang dilema hidup yang masih menjadi teka-teki misterius. Mencarimu, melaluiku”.
Pada malam itu, rembulan lupa untuk memberikan pelitanya. Desir angin pun enggan berbisik menyapa daun. Akar sunyi, menjalar dan berkelabat. Semesta seolah-olah tidak berputar pada malam itu.
Lihatlah! Di pertigaan jalan kelok itu, bocah perempuan cantik nan hijau bagaikan rerumputan di pegunungan yang gersang, masih setia menanti senyum tuan dan nyonya berbalas ramah. Malam yang kelam mengajarkannya untuk memberikan rona senyuman menggelitik.
Pinta-pinta bocah itu pada siapa saja yang iba kepadanya. Pada jalanan, ia menari dan juga bernyanyi menggoda hati. Berharap satu atau barangkali dua perak lebih.
Di relung malam, bocah itu tersenyum. Malaikat-malaikat penjaga menatapnya dari langit. Berbisik halus hingga terdengar sampai di lubuk hatinya: “Tidurlah, sayang, tidur. Biarkan mimpi indahmu bercerita lagi di esok hari”.
Berita langit telah bersua pada hari itu, terangkai istimewa dalam untaian cerita yang tercuri entah oleh siapa. Mengisahkan tentang aku, dia, dan mereka.

Sempurna sudah mentari duduki singgasananya. Menyinari alam semesta ini begitu terik, menyarukan. Sinarnya memantul pada telaga bening den...


Sungguh beruntung nasibku, predikatku di SMA yang terkenal dengan prestasinya yang banyak, mampu menghantarkanku ke perguruan tinggi terkenal, Universitas Korea. Untuk biayanya, setiap hari aku harus berjuang menjadi seorang tukang sapu jalanan. Mungkin hanya itulah satu-satunya cara agar aku bisa tetap kuliah.
Bagaimana dengan hasil ujian nasionalku ketika SMA? Astaga, mengenai hal itu aku sangat bersyukur sekali. Lagi-lagi aku berhasil mendapatkan nilai rata-rata tertinggi di sekolah, lalu diikuti oleh sahabatku, Lee yang berada di peringkat kedua.
Perjuangan keras yang selama ini aku dan Lee lakukan, membuahkan hasil yang membanggakan. Aku dan Lee percaya bahwa setiap hasil yang didapat, pasti sebanding dengan usaha yang ia lakukan. Oleh karena itu, aku dan Lee benar-benar memanfaatkan waktu luang untuk diskusi bersama.
Bicara tentang Lee, sahabatku. Ia sudah hijrah ke kota Berlin tiga pekan yang lalu. Sesuai dengan perkataanya bahwa ia akan pindah setelah ujian nasional nanti. Dan beruntunglah aku pada saat sebelum kepergian Lee, aku ditemani Ayah dan Ibu masih bisa menghantarkannya hingga bandara yang ada di ibukota. Lee berjanji padaku akan berkunjung kembali kesini setelah ia sukses menjadi manajer perusahaan besar. Lalu Lee pun pergi, sahabat terbaikku pergi.
Di Berlin sana, kabarnya Lee aktif di berbagai organisasi di kampusnya. Begitu juga denganku, saat kuliah inilah awal mula titik balik hidupku. Aku mulai berkenalan dengan dunia politik, menjadi anggota dewan mahasiswa, hingga aku ditarik menjadi salah satu pekerja di pabrik kendaraan ternama. Meskipun hanya seorang pekerja, semua itu kujalani dengan sepenuh hati.
*~*~*~*~*~*~*~*~*
10 Tahun Kemudian,
Kemampuanku mengundang perhatian dari seluruh pekerja pabrik, hingga terdengarlah berita itu kepada pendiri pabrik. Tanpa harus berpikir panjang, pendiri pabrik tersebut dengan beraninya memposisikanku di divisi konstruksi. Sungguh, aku terkejut seketika saat mendengar berita itu. Bukan karena aku takut akan posisi itu, melainkan amanah yang akan kutanggung akan lebih berat lagi.
*~*~*~*~*~*~*~*~*
20 Tahun Kemudian,
Setelah sekian lama aku bekerja di pabrik, kini aku menapaki kembali dunia politik. Pada tahun itu juga aku tercatat sebagai anggota dewan, dan meninggalkan dunia konstruksi. Semua itu dengan harapan agar cita-citaku dulu bisa terwujud dan menjadi kenyataan.
*~*~*~*~*~*~*~*~*
10 Tahun Kemudian,
Kini aku menjadi seorang tokoh yang paling dipandang di kota Seoul. Ya, sudah selayaknya seorang walikota suatu kota itu dipandang, karena interaksi langsung kepada masyarakat pasti terjadi disana. Dan satu langkah lagi cita-citaku akan terwujud, menjadi orang nomor satu di Korea Selatan.
Dan yang mengejutkan pada tahun itu adalah kedatangan Lee, sahabatku datang jauh dari Berlin sana. Sungguh ia datang dengan membawa kabar baik. Kini dirinya telah menjadi seorang manajer di sebuah perusahaan minyak di Berlin. Ia terlihat lebih gagah, tampan dan lebih mapan seperti kedua orang tuanya. Sayangnya, pertemuan itu hanya singkat. Lee harus pulang kembali ke Berlin karena mempunyai urusan lain yang lebih penting.
*~*~*~*~*~*~*~*~*
5 Tahun Kemudian,
Aku sangat bahagia sekali. Aku yang masa kecilnya sangat miskin itu, kini menjadi orang nomor satu di Korea selatan. Hidupku mulai dari kemelaratan yang luar biasa hingga menjadi seorang presiden seperti yang terjadi saat ini. Sebuah pembuktian bahwa cinta, perjuangan dan keyakinan itu dapat menaklukan segalanya. Dan setiap orang itu memanglah berhak untuk hidup sukses.
Aku sangat berterima kasih kepada Ayah dan Ibuku yang selalu menasihati, membimbing dan menuntunku menuju jalan yang terbaik. Juga untuk sahabat seperjuanganku, Lee. Kini saatnya aku yang berkunjung ke perusahaan minyak terbaikmu di Berlin. Lee, aku sukses, aku seorang presiden.

Sungguh beruntung nasibku, predikatku di SMA yang terkenal dengan prestasinya yang banyak, mampu menghantarkanku ke perguruan tinggi terke...


Selepas kenaikan kelas dua. Ayah dan Ibu memutuskan untuk pindah ke ibukota, Seol. Dengan harapan kehidupan mereka akan jauh lebih baik. Namun, setelah dua minggu tinggal disini, nasib orang tuanya tetaplah terpuruk, menjadi penjual sayur di jalanan.
Saat itu juga, aku memutuskan untuk lepas dari orang tua, dan bekerja menjadi buruh bangunan. Cukup sudah aku membuat mereka susah selama ini. Sudah saatnya aku berlaku dewasa, berpikir ke depan. Menyongsong masa depan yang cerah. Dan pada saat itu juga aku bercita-cita menjadi seorang pegawai.
Tahun pertamaku di SMA berjalan dengan lancar. Pada awal-awal tahun aku cenderung menyendiri dan menjauh dari anak-anak lain. Namun, pada pertengahan tahun aku sudah mulai bisa bergaul dengan yang lain. Begitu juga pada prestasi yang telah kuraih, salah satunya adalah juara satu karya tulis ilmiah mengenai cara kerja mesin pada sebuah transportasi. Prestasi yang cukup bergengsi di sekolahku. Prestasi itu kutorehkan sebagai penutup tahun ajaran.
Begitu juga dengan tahun kedua. Prestasi-prestasi lain dengan mudah kudapatkan. Aku selalu ditunjuk, dan berhasil meraih kemenangan itu dengan mudah setelah berusaha keras. Selain itu aku juga terpilih menjadi ketua OSIS sekaligus ketua kelas di sekolah. Mengemban amanah yang cukup banyak. Tidak mudah, tetapi kucoba jalani. Oleh sebab itu, aku menjadi murid kepercayaan para guru di sekolah.
Dan kini, ujian nasional SMA hanya tinggal tiga hari lagi. Seluruh pengorbanan atas waktu yang selama ini aku habiskan untuk menuntut ilmu, akan segera terbayar. Dan pengorbanan para guru-guruku yang pantang menyerah akan memberikan ilmu yang bermanfaat bagiku akan membuat kabar-kabar baik itu datang tentunya. Aku percaya itu.
“Man, pulang bareng yuk?!” Tiba-tiba ajak Lee salah satu sahabatku yang memecah lamunanku.
“Okedeh, ayo!!!” Balasku semangat.
Dengan cepat aku bergegas bangun. Lalu beranjak pulang meninggalkan sekolah bersama Lee. Seperti biasa, selepas pelajaran tambahan aku dan Lee selalu pulang bersama. Saling bertukar cerita selama di perjalanan, baik itu cerita sedih, senang, tentang rencana kuliah, masa depan, sampai masalah keluarga. Begitu akrab aku dengan Lee, begitu juga dengan keluarganya. Baik sekali kepadaku.
“Man, kamu ada rencana untuk kuliah tidak?” Tanya Lee membuka percakapan di perjalanan pulang ini.
“Ada siiih, tapi kamu juga mengertilah. Tahu. Bagaimana kondisi keuangan kedua orang tuaku. Sebelumnya maaf, bukannya aku bermaksud untuk sombong, Lee. Aku bisa melanjutkan sekolah hingga sekarang ini saja, itu karena aku mendapatkan beasiswa penuh. Entahlah, akan menjadi apa kelak, jikalau aku tidak mendapatkan beasiswa itu. Bisa saja aku akan menjadi penjual koran, pengemis mungkin, atau pengamen yang menjual suara indahnya demi mendapatkan beberapa suap nasi. Bisa saja kan?” Jawabku panjang lebar lalu balik bertanya.
“Iya juga siiiiih” Jawab Lee pendek.
“Kamu sendiri rencana kuliah dimana, Lee?”
“Rencananya, aku akan kuliah di eropa sana, Man. Prospek kerja Ayahku akan dipindahkan ke Berlin, Jerman. Dalam waktu dekat ini. Mungkin setelah ujian nasional besok. Mau tidak mau pasti aku akan ikut kesana. Kecil kemungkinan untuk menetap disini”
“Kamu beruntung sekali, Lee. Terlahir dari keluarga yang berkecukupan. Bahkan bisa dibilang lebih. Nah, sedangkan aku?”
“Huuuuush!!! Jangan begitu kamu, Man. Bersyukurlah dengan keadaanmu yang sekarang. Bagaimanapun juga kedua orang tuamu itu telah bersusah payah mencari nafkah, hingga sampai saat ini, untuk mencukupi kebutuhanmu juga kan?”
“Iya juga siiih. Huh”
“Sudahlah, Man. Jalanilah hidup ini dengan santai. Hadapi saja rintangan yang ada dengan senyuman. Semua akan terlihat dan terasa lebih indah jika dibalas dengan senyuman bukan? Biarkanlah hal yang sudah terjadi berlalu bagai angin yang berhembus, dan sudah waktunya kita tatap masa depan yang cerah dengan penuh keyakinan. Kita tatap ujian nasional esok dengan penuh keyakinan, Man! Oke Pak Presiden?” Kata Lee disambung dengan canda kepada Kerman.
“Oke deh Pak Manajer!” Jawab Kerman sembari berjabat tangan sebagai tanda sepakat dengan Lee.
“Hahahaha” Kami tertawa bersama.
Tidak terasa kami berjalan sudah cukup jauh. Menara sekolah yang terbilang tinggi itu pun sudah tidak terlihat lagi. mungkin kami terlalu asik dalam pembicaraan selama diperjalanan pulang ini, sehingga benar-benar tidak terasa bahwa kami sudah setengah jalan.
“Oiya Lee, bagaimana nih persiapan untuk ujian nasionalmu? Kan tinggal beberapa hari lagi tuh” Tanya Kerman.
“Udah siap dong, Man. Hanya tinggal ikhtiarnya saja deh. Gimana dengan kamu sendiri?”
“Siap banget! Sudah tidak sabar lagi aku, Lee. Hahahaaa...” Jawab Kerman semangat.
“Wah...wah...hebat deh kamu, Man. Semoga saja kita mendapatkan hasil yang terbaik yah. Supaya mudah untuk kuliahnyaaa...”
“Benar banget, Lee. Semoga saja begitu”
Tanpa disadari, doa-doa mereka tergantung di birunya langit, tergantung bersama dengan doa-doa berjuta jiwa lainnya. Dan tanpa mereka sadari juga, seluruh alam semesta beserta penciptanya sepakat untuk mengabulkan permintaan mereka berdua.
Tertiba saja angin berhembus kencang. Membuat pepohonan dan rerumputan bergoyang-goyang ke kanan dan ke kiri. Dan tertiba saja langit yang tadinya cerah kini berubah menjadi gelap. Pertanda hujan akan turun dalam waktu dekat.
“Eh Man, sepertinya hujan akan turun nih! Gimana kalau kita lari saja? Daripada kita kehujanan nantinya, jatuh sakit, dan tidak bisa ikut ujian nasional, ya gak?” Kata Lee memberi saran kepada Kerman.
“Ayo deh, Ayo Lee! Haha” Balas Kerman lalu berlari duluan meninggalkan Lee di belakang.
“Waah curang kamu, Man!” Gerutu Lee lalu berlari menyusul Kerman di depan.
“Hahahaha” Kerman menertawakan Lee.
Dan akhirnya mereka berpisah di pertigaan jalan. Kerman tetap berlari lurus, sedangkan Lee berlari belok ke arah kanan. Beruntunglah mereka, hujan baru turun tepat saat mereka menginjakkan kaki di teras rumah mereka masing-masing, jadi mereka tidak kebasahan sedikit pun. Selamat.
Begitulah persahabatan Kerman dan Lee. Saling menghiasi satu sama lain, saling melengkapi, dan saling menghargai. Itulah yang membuat hidup mereka tidak monoton, membuat hidup mereka lebih berwarna, dan menjadi lebih indah lagi. Bagi mereka, persahabatan itu dapat melipat gandakan kebahagiaan dan mengurangi kesedihan di antara mereka berdua. Dan seharusnya persahabatan memanglah begitu.
*~*~*~*~*~*~*~*~*

Selepas kenaikan kelas dua. Ayah dan Ibu memutuskan untuk pindah ke ibukota, Seol. Dengan harapan kehidupan mereka akan jauh lebih baik. N...